Mampukah Anda Tetap Bersedekah Di Saat Bisnis Mengalami Kebangkrutan

“Sebaik-baiknya sedekah adalah sedekah dari orang yang harta bendanya sedikit.” (HR.Muslim)

Berdasarkan hadits di atas maka sedekah terbaik adalah pada saat kita mengalami kesusahan. Dalam bisnis tentu saja disaat bisnis yang kita jalani sedang mengalami kebangkrutan.

Ada sebuah kisah keajaiban sedekah yang dirasakan oleh seorang pengusaha yang jatuh bangkrut hingga semua aset bahkan rumah pribadi yang ia bangun habis demi melunasi hutan-hutang. Tidak tanggung-tanggung, hutang yang ia emban yaitu ‘Lima milyar..!! Hutang ini harus ia lunasi dalam empat hari. Semua aset usaha dan rumahnya ia jual, namun hasil dari penjualan tersebut hanya dua milyar, tidak cukup untuk membayar seluruh hutangnya.

Bingung bercampur aduk dengan asa yang tak karuan? tentu saja. Dalam pikirannya sudah tergambar tentang penjara buatnya jika tidak bisa melunasi hutang tersebut. Akan tetapi pengusaha ini tidak kecewa begitu saja, ia mengembalikan semuanya kepada Allah SWT. Ia berpikir tentang kebesaran sang Maha Kuasa, tentang hambanya yang sedang kesulitan, dan hanya kepadanya akan memohon perlindungan akan segala kesulitan dan dampaknya.

Saat tinggal menyisakan 3 hari lagi untuk melunasi hutang lima milyarnya, Pengusaha ini malah berbicara begini kepada anaknya “nak, ini uang dua milyar hasil penjualan dari semua aset usaha dan rumah”, sang anak hanya termangu mendengarkan sang bapak berbicara demikian. “ini masih kurang untuk membayar hutang Bapak, jika bapak harus dipenjara, biarlah tidak apa-apa, bawalah seluruh uang ini kepada yang membutuhkan, sedekahkan semuanya, jika yang memberi hidup sudah berkehendak seperti ini, maka tidak apa-apa”, pasrah sang pengusaha.

Anaknya berangkat untuk menyedekahkan uang dua milyar tersebut sebagaimana perintah sang bapak. Lembaga-lembaga sosial, panti asuhan, dan rumah zakat ia masuki dan menyerahkan sedekah uang tersebut seraya meminta doa agar besok dan seterusnya ada jalan untuk melunasi hutang dan ngejalanin semua kesulitannya tersebut.

Sehari sebelum hari-H, harapannya kepada Allah SWT tidak luntur miskipun dengan uang dua milyar yang ia sedekahkan tersebut tak kunjung diganti oleh-Nya. Tepat di pergantian hari dimana ia harus melunasi hutang tersebut, keajaiban itu datang. Tak disangka, sang pengusaha mendapatkan kiriman pada rekeningnya sebesar sebelas milyar yang berasal dari tempat dulu ia bekerja, sebelum mempunyai usaha sendiri. Esok harinya ia pun melunasi hutangnya, meneruskan usahanya, membeli rumah yang lebih besar dari sebelumnya, membayar karyawannya yang masih setia bekerja miskipun dibayar dan kadang tidak dibayar. Dan syukur yang luarbiasa, saat ini usahanya maju, sukses keras. Subhanallah. (Ary Ginanjar)