5 Tips agar Menasihati Tak Menyakiti

Manusia makhluk yang paling sering lupa dan tak bisa terhindar dari khilaf. Rasulullah bersabda, “Setiap anak adam rentan terhadap kesalahan. Orang terbaik ketika bersalah adalah mereka-mereka yang bertaubat secepatnya”.

Sebagai melekat ukhuwah Islamiyah saling menasihati dalam kebaikan adalah keutamaan. Mengingatkan ketika seorang dari saudara kita salah adalah keistimewaan. Ketika saudaramu salah, tak adakan cara ahsan untuk menasihatinya? Nasihat ini teruntukku dan teruntukmu, tips bagaimana agar menasihati tak menyakiti :

  1. Buanglah skeptis pada tempatnya

    Skeptis sendiri biasanya timbul karena kecurigaan dan hal-hal yang tak sesuai dengan cara pandang kita. Seorang skeptis cenderung meyakini pandangannya sendiri dan meragukan pandangan-pandangan lain di luar itu. Dalam filsafat skeptisme juga termasuk pada sudut pandang kesembarangan, relativitas, atau subyektivitas dari nilai-nilai moral. Bahkan timbul akibat keterbatasan pengetahuan. Buanglah skeptis pada tempatnya. Menasihati saudara kita yang seaqidah khususnya, ada cara lebih ahsan dibanding dengan mengedepankan skeptis agar tidak menyesal dan menyakiti saudara kita nantinya.

    QS. Al Hujurat: 6 Allah berfirman :
    “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

  2. Utamakan husnudzon

    Husnudzon pada Allah seperti dalam hadist Qudsi :
    Sesungguhnya Allah berkata : Aku sesuai prasangka hambaku padaku. Jika prasangka itu baik, maka kebaikan baginya. Dan apabila prasangka itu buruk, maka keburukan baginya. (HR. Muslim)

    Begitupun pada hambaNya, tetap harus mengedepankan husnudzon. Husnudzon sebelum menasihati saudara kita atas kebaikannya atau keburukannya yang kita lihat. Berbaik sangka bahwa kebaikan saudara kita yang kita lihat adalah bagian dari keimanannya yang tercermin bukan semata-mata untuk mencari perhatian makhluk. Ataupun keburukannya yang kita lihat adalah bagian dari keimanannya yang sedang futur dan khilaf yang tak disengaja.

    QS. Al Hujurat: 12 Allah berfirman :
    Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.

    Rasulullah SAW menegaskan dalam hadisnya, ”Jauhilah olehmu prasangka. Sesungguhnya prasangka itu adalah perkataan yang paling dusta.” (Muttafaq ‘alaih)

  3. Dahulukan tabayyun sebelum judge

    Beberapa kali terlihat seorang yang mudah mengomentari ucapan saudaranya padahal belum tahu benar maksudnya. Apalagi jika sekedar kabar yang belum jelas kebenarannya dari orang fasik, tentang saudaranya. Komentar yang maksudnya menasihati dan tidak mengurui, namun tetap kurang ahsan jika belum tabayun.

    Ketika Ali bin Abi Thalib hendak diutus sebagai hakim ke Yaman, Rasulullah mengarahkannya dengan berkata, “Semoga Allah senantiasa memberimu petunjuk dan meneguhkan lisanmu. Jika fihak berperkara menghadap kepadamu, maka jangan sekali-kali memutuskan perkara tanpa mendengar kedua belah fihak. Karena yang demikian akan memudahkan kamu memutuskan perkara dengan baik”

  4. Sampaikan nasihat secara tersembunyi

    Saudaramu adalah bagian dari tanggung jawabmu. Menasihati di depan orang ramai atau di sebuah forum mungkin bisa menimbulkan efek jera, karena jelas akan membuat saudaramu malu. Bisa juga sebagai pembalajaran bagi yang lain agar tidak melakukan kesalahan yang sama. Tapi bukankah kurang ahsan, karena secara langsung kita telah membuka kesalahan atau aib saudara kita di depan orang lain. Niat menasihati yang justru menyakiti.

    Menasihati secara tersembunyi akan lebih baik. Sesuatu yang disampaikan dari hati akan sampai ke hati. Diterimanya nasihat tak hanya karena isi nasihatnya yang baik tapi juga cara menyampaikan yang juga baik.

    Sebagaimana petuah Imam Ibnu Hibban rahimahullah, “Barangsiapa yang menasihati saudaranya di hadapan orang lain maka berarti dia telah mencelanya. Dan barangsiapa yang menasihatinya secara rahasia maka dia telah memperbaikinya.”

  5. Samakan perspektif

    Sudah menjadi sunatullah bahwa manusia terlahir dengan perbedaan-perbedaan. Perbedaan pengalaman dan sudut pandang banyak mempengaruhi kita dalam hal menasihati. Setelah tabayyun, sebaiknya kita menyamakan perspektif dengan saudara kita. Bisa jadi pemahaman dan pengetahuan kita akan suatu hal sama, hanya saja perbedaan perspektif yang membuat kita merasa perlu menasihati. Padahal jika perspektif yang digunakan sudah sama bisa menimbulkan diskusi yang saling menambah wawasan satu sama lain. Perbedaan perspektif dapat diperkecil dengan banyaknya silaturahim. Menasihati pun bukan lagi jadi hal yang membuat sensi, tapi menjadi pengobat rindu di hati.

    Wallahu a’lam

Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)
Menasihati dalam kebaikan itu mulia hingga menjadi amalan dan sunah Nabi SAW, yaitu nasihat menasihati saudara kita atau kepada siapa saja untuk mentaati Allah SWT. Namun jangan sampai cara menasihati kita yang tak ahsan, malah menyinggung dan justru membuat orang lain bahkan saudara kita menjauh. Tugasmu hanya menyampaikan, maka sampaikanlah dengan sebaik-baik ucapan dan cara penyampaian. (HIA)